Daftar Isi
- 1 Industri dan Konsumsi Jadi Motor Ekonomi
- 2 Perlambatan Bukan Sinyal Pelemahan Fundamental
- 3 Kredit Investasi Menguat, Pengangguran Menurun
- 4 Inflasi Banten Tetap Terkendali
- 5 QRIS Makin Kuat Dorong Ekonomi Digital Banten
- 6 BI Dorong QRIS Masuk Transportasi hingga Sekolah
- 7 Ekonomi Banten 2026 Diproyeksi Tumbuh hingga 5,9 Persen
SERANG, SEBARAYA.COM – Perekonomian Provinsi Banten menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada Triwulan II 2026, ekonomi Banten tumbuh 5,49 persen secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa fundamental ekonomi Banten masih cukup kuat. Pertumbuhan ditopang oleh permintaan domestik, industri pengolahan, investasi, konstruksi, dan perdagangan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, Sofwan Kurnia, dalam Taklimat Media Triwulan II 2026 bertema “Ekonomi Banten Tetap Solid, Prospek Pertumbuhan Terjaga” di Serang, Jumat (7/8/2026).
Sofwan mengatakan, selain tumbuh 5,49 persen secara tahunan, ekonomi Banten pada Triwulan II 2026 juga tumbuh 1,24 persen secara kuartalan (qtq). Sementara secara kumulatif sepanjang Semester I 2026, ekonomi Banten tumbuh 5,57 persen (ctc).
Meski angka Triwulan II sedikit melambat dibandingkan Triwulan I 2026 yang mencapai 5,64 persen, Bank Indonesia menilai kondisi tersebut lebih mencerminkan proses normalisasi setelah tingginya aktivitas ekonomi pada awal tahun, terutama akibat momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
“Kinerja ini menunjukkan bahwa fondasi pertumbuhan ekonomi Banten tetap kuat dan luas. Industri terus menguat, konstruksi berakselerasi, sementara permintaan domestik tetap menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Sofwan.
Industri dan Konsumsi Jadi Motor Ekonomi
Sektor industri pengolahan masih menjadi jangkar utama perekonomian Banten dengan kontribusi sebesar 30,36 persen terhadap struktur ekonomi daerah. Sektor tersebut tumbuh 4,87 persen secara tahunan.
Di sisi lain, konsumsi rumah tangga juga tetap menjadi mesin utama pertumbuhan. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,09 persen (yoy) dan memberikan kontribusi sebesar 2,81 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi Banten.
Kinerja investasi juga menunjukkan perkembangan positif. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,39 persen (yoy). Sementara realisasi investasi pada Triwulan II 2026 mencapai Rp31,89 triliun, atau tumbuh 7,41 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara kumulatif, realisasi investasi Banten sepanjang Semester I 2026 mencapai Rp66,3 triliun. Angka tersebut menempatkan Banten pada peringkat kelima nasional.
Besarnya aktivitas ekonomi Banten juga tercermin dari kontribusinya terhadap perekonomian regional dan nasional. Banten menyumbang sekitar 6,67 persen terhadap perekonomian Pulau Jawa dan 3,86 persen terhadap perekonomian nasional.
Perlambatan Bukan Sinyal Pelemahan Fundamental
Menanggapi kekhawatiran mengenai potensi perlambatan ekonomi akibat gejolak global dan dinamika domestik, Sofwan menilai kondisi ekonomi Banten masih relatif terjaga.
Menurutnya, tingginya pertumbuhan pada Triwulan I 2026 tidak terlepas dari momentum HBKN yang mendorong peningkatan aktivitas masyarakat. Karena itu, perlambatan pada Triwulan II lebih tepat dipandang sebagai normalisasi, bukan perubahan fundamental ekonomi.
Bank Indonesia juga menyoroti perkembangan tabungan masyarakat yang mengalami penurunan. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan melemahnya daya beli.
Peningkatan kebutuhan masyarakat, efisiensi di lingkungan aparatur sipil negara, serta pergeseran preferensi masyarakat ke instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi seperti deposito dan surat utang pemerintah turut memengaruhi perkembangan tabungan.
Kredit Investasi Menguat, Pengangguran Menurun
Prospek ekonomi Banten pada Triwulan III 2026 diperkirakan tetap positif. Sejumlah faktor pendukung berasal dari potensi peningkatan belanja masyarakat, kinerja kredit perbankan, serta keberlanjutan proyek konstruksi dan pembayaran proyek di Banten.
Kredit perbankan tumbuh 6,84 persen (yoy). Kredit investasi menjadi salah satu pendorong utama dengan pertumbuhan mencapai 14,66 persen (yoy).
Di tengah ekspansi kredit tersebut, risiko kredit masih relatif terkendali. Hal itu tercermin dari tingkat Non-Performing Loan (NPL) sebesar 2,92 persen.
Dari sisi ketenagakerjaan, kondisi juga menunjukkan perbaikan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Banten pada Mei 2026 turun menjadi 6,48 persen, disertai tambahan sekitar 57 ribu penduduk bekerja.
Meski demikian, Bank Indonesia menilai kualitas penciptaan lapangan kerja masih perlu diperkuat. Pasalnya, proporsi pekerja formal di Banten baru mencapai 48,99 persen.
Pergeseran sebagian tenaga kerja formal menuju sektor informal dan pertanian juga terus dicermati, terutama terkait keterkaitannya dengan pendapatan pekerja, akses layanan perbankan, serta kemampuan memperoleh pembiayaan.
Inflasi Banten Tetap Terkendali
Stabilitas harga juga menjadi salah satu fondasi yang menjaga daya beli masyarakat. Pada Juli 2026, Banten mencatat deflasi 0,22 persen (mtm).
Sementara itu, inflasi tahunan tercatat 2,49 persen (yoy) dan inflasi tahun kalender sebesar 1,19 persen (ytd).
Kondisi tersebut antara lain didukung peningkatan pasokan bawang merah dan aneka cabai, koreksi harga emas perhiasan, serta implementasi Program Sekolah Gratis.
Pengendalian inflasi terus diperkuat melalui sinergi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten bersama pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
QRIS Makin Kuat Dorong Ekonomi Digital Banten
Selain sektor riil, transformasi digital turut menjadi kekuatan baru dalam perekonomian Banten.
Hingga Juni 2026, jumlah pengguna QRIS di Banten telah mencapai sekitar 3,7 juta pengguna, dengan jumlah merchant mencapai 2,9 juta. Menariknya, sebanyak 95,52 persen merchant QRIS merupakan pelaku UMKM.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, transaksi QRIS di Banten mencapai 768,5 juta transaksi dengan nominal mencapai Rp65,29 triliun.
Seluruh pemerintah daerah di Banten juga telah berada dalam kategori Digital dalam Indeks Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (IETPD).
Perkembangan tersebut berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas UMKM melalui pelatihan dan pendampingan. Pemanfaatan kanal digital juga semakin luas, termasuk pada transaksi e-commerce dengan kelompok produk bernilai tinggi seperti fashion, kebutuhan rumah tangga, dan kosmetik.
BI Dorong QRIS Masuk Transportasi hingga Sekolah
Untuk semakin memperluas penggunaan pembayaran digital, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten kembali menggelar Pekan QRIS Nasional (PQN) 2026 pada 11–16 Agustus 2026.
Mengusung tema “Rayakan Digitalisasi! QRISnya Satu, Menangnya Banyak!”, salah satu agenda utama PQN 2026 di Banten adalah kampanye QRIS TAP pada moda transportasi kereta api.
Masyarakat yang menggunakan QRIS TAP untuk pembayaran tiket KRL di sejumlah stasiun terpilih berkesempatan memperoleh berbagai promo dan hadiah.
BI Banten juga menghadirkan booth layanan pembayaran pajak di Stasiun Cisauk, Jurangmangu, dan Rangkasbitung. Masyarakat dapat membayar PBB-P2 maupun Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) menggunakan QRIS.
Edukasi QRIS TAP juga akan menyasar pengguna Bus Tayo Tangerang. Selain itu, rangkaian PQN 2026 mencakup sosialisasi QRIS di sekolah dan perguruan tinggi, onboarding merchant dan pengguna QRIS, serta berbagai kegiatan yang melibatkan pemerintah daerah, industri, akademisi, komunitas, dan masyarakat.
Ekonomi Banten 2026 Diproyeksi Tumbuh hingga 5,9 Persen
Melihat berbagai indikator tersebut, Bank Indonesia Provinsi Banten memperkirakan ekonomi Banten pada 2026 masih mampu tumbuh dalam kisaran 5,1–5,9 persen.
Pertumbuhan tersebut diperkirakan ditopang daya beli masyarakat, investasi, keberlanjutan proyek strategis, ekspansi industri, serta aktivitas perdagangan.
Prospek investasi juga semakin terbuka seiring pengembangan proyek industri hijau dan ekspansi korporasi yang berpotensi memperkuat rantai pasok, meningkatkan efisiensi, sekaligus mendongkrak daya saing industri Banten.
Meski demikian, Bank Indonesia tetap mewaspadai sejumlah risiko, mulai dari ketidakpastian global, tekanan biaya energi dan logistik, keterlambatan proyek, realokasi fiskal, risiko pemutusan hubungan kerja, hingga kualitas penciptaan lapangan kerja.
Dengan fondasi ekonomi yang relatif kuat, investasi yang tetap tumbuh, inflasi yang terkendali, serta akselerasi digitalisasi melalui QRIS, sinergi Bank Indonesia, pemerintah daerah, dunia usaha, perbankan, dan seluruh pemangku kepentingan akan terus diperkuat.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga ekonomi Banten tetap solid, inklusif, dan berkelanjutan sekaligus memastikan peluang pertumbuhan ekonomi daerah tetap terbuka hingga akhir 2026. (RST)







