Daftar Isi
BEKASI, SEBARAYA.COM – Tumpukan sampah di Kota Bekasi bakal mendapat solusi baru. Pemerintah bersama PT PLN (Persero) dan sejumlah pemangku kepentingan resmi memulai pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Bekasi, yang diproyeksikan mampu mengolah lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun sekaligus menghasilkan listrik untuk masyarakat.
Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Sponsors Agreement dan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) dalam agenda Peresmian Pembangunan PSEL Kota Bekasi, Rabu (26/8/2026).
Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun itu diharapkan menjadi salah satu terobosan dalam mengatasi persoalan sampah sekaligus menghadirkan sumber energi bersih bagi masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, percepatan PSEL menjadi penting karena pengembangan proyek waste to energy selama ini menghadapi berbagai kendala regulasi dan perizinan.
Menurutnya, kompleksitas aturan menjadi salah satu penyebab proyek pengolahan sampah menjadi energi berjalan lambat dalam lebih dari satu dekade terakhir.
“Kalau sampah saja kita tidak bisa urus, bagaimana kita mengurus yang lebih besar. Itu perintah Pak Presiden. Aturan mengenai pengelolaan sampah ini, waste to energy, ratusan lebih aturannya. Oleh karena itu, 11 tahun hanya ada dua (proyek),” ujar Zulkifli.
Pemerintah kini berupaya menyederhanakan regulasi agar pembangunan fasilitas PSEL di berbagai daerah dapat dipercepat. “Dari sini tinggal tiga (aturan),” lanjutnya.
Olah 500 Ribu Ton Sampah Setiap Tahun
Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan PSEL Kota Bekasi diproyeksikan menjadi solusi konkret terhadap persoalan darurat sampah sekaligus menciptakan nilai ekonomi dan lingkungan.
Fasilitas tersebut diproyeksikan mampu menangani lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun, atau sekitar 70 persen timbulan sampah terolah di Kota Bekasi.
Tak hanya mengurangi beban sampah, keberadaan PSEL juga diperkirakan mampu mengurangi kebutuhan lahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) hingga 90 persen. “Peresmian Pembangunan PSEL hari ini menandai hadirnya solusi nyata untuk menjawab tantangan darurat sampah di Indonesia dan secara terkhusus di Kota Bekasi,” kata Pandu.
PSEL Kota Bekasi juga diproyeksikan memberikan dampak lingkungan dengan mengurangi emisi karbon sekitar 640 ribu ton setara CO₂ per tahun.
Hasilkan Listrik untuk 55 Ribu Rumah
Dari sisi energi, PSEL Kota Bekasi akan memiliki kapasitas listrik netto sebesar 27,4 MW.
Fasilitas tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 223.584 MWh listrik per tahun.
Jika dibandingkan dengan rata-rata konsumsi pelanggan rumah tangga berdaya 450 VA, produksi listrik tersebut setara dengan kebutuhan sekitar 55 ribu rumah tangga.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan listrik yang dihasilkan PSEL Kota Bekasi akan didedikasikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut.
“Demand listrik di Bekasi cukup tinggi. Maka, kita mendedikasikan listrik dari PSEL Bekasi ini untuk masyarakat Bekasi. Jadi, sampah Kota Bekasi masuk ke sini (PSEL), kemudian listrik yang dihasilkan kita pasok kembali ke Kota Bekasi,” ujar Darmawan.
Konsep tersebut membuat PSEL tidak hanya menjadi fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga bagian dari ekosistem energi daerah.
Sampah yang selama ini menjadi persoalan lingkungan akan diproses, sementara energi yang dihasilkan dapat kembali dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat.
Ciptakan 1.000 Lapangan Kerja Hijau
Proyek PSEL Kota Bekasi juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Pandu menyebut pembangunan dan operasional fasilitas tersebut berpotensi menciptakan sekitar 1.000 lapangan kerja hijau. “PSEL Kota Bekasi juga diharapkan dapat menciptakan nilai lingkungan, energi, dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Inisiatif ini diharapkan menghasilkan hampir 1.000 lapangan kerja hijau dan menyediakan energi bersih bagi puluhan ribu rumah tangga,” jelas Pandu.
Menurutnya, proyek tersebut menjadi bukti pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Danantara Indonesia, PLN, serta berbagai pemangku kepentingan dalam menghadirkan solusi pengelolaan sampah terintegrasi.
Dedi Mulyadi Minta Warga Ubah Perilaku
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyambut pembangunan PSEL Kota Bekasi sebagai langkah penting untuk mempercepat penanganan persoalan sampah di Jawa Barat.
Ia berharap pembangunan fasilitas tersebut dapat segera berjalan dan memberikan solusi terhadap kebutuhan masyarakat. “Untuk itu, semoga apa yang dicanangkan hari ini bisa berjalan dengan cepat dan mampu merespons apa yang menjadi kebutuhan masyarakat,” ujar Dedi.
Namun, menurut Dedi, pembangunan fasilitas pengolahan sampah harus dibarengi dengan perubahan perilaku masyarakat.
Ia menekankan pentingnya menghentikan kebiasaan membuang sampah sembarangan agar persoalan sampah dapat ditangani dari hulu hingga hilir.
PLN: Produk Utamanya Lingkungan Bersih
Darmawan menegaskan bahwa pembangunan PSEL pada dasarnya tidak boleh hanya dipandang sebagai proyek pembangkit listrik.
Menurutnya, tujuan utama fasilitas tersebut adalah menyelesaikan persoalan sampah dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih. Adapun listrik merupakan manfaat tambahan yang dihasilkan dari proses pengolahan sampah.
“Jadi, produk utamanya bukan listrik, tapi produk utamanya adalah lingkungan yang bersih. Listrik hanyalah by-product dari program ini,” tegas Darmawan.
Dengan kapasitas pengolahan lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun, investasi sekitar Rp3 triliun, potensi produksi listrik 223.584 MWh per tahun dan penciptaan sekitar 1.000 lapangan kerja hijau, PSEL Kota Bekasi diharapkan menjadi model pengelolaan sampah yang mampu menggabungkan kepentingan lingkungan, energi dan ekonomi.
Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat pengembangan waste to energy di berbagai daerah Indonesia setelah selama bertahun-tahun menghadapi hambatan regulasi dan perizinan. (RST)







