PLN Kejar 7,9 GW Panas Bumi, Indonesia Bidik Jadi Raja Geotermal Dunia

Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong berkapasitas 80 MW di Tomohon, Sulawesi Utara. ISTIMEWA

JAKARTA, SEBARAYA.COMIndonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama energi panas bumi dunia. PT PLN (Persero) kini menargetkan kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) nasional melonjak dari 2,8 gigawatt (GW) menjadi 7,9 GW pada 2033.

Target ambisius tersebut menjadi bagian dari strategi PLN mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT), sekaligus mendukung target pemerintah menjadikan Indonesia sebagai produsen energi panas bumi nomor satu di dunia.

Bacaan Lainnya

Panas Bumi Jadi Kunci Kedaulatan Energi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, percepatan pengembangan panas bumi merupakan langkah penting untuk memperkuat kedaulatan dan kemandirian energi nasional.

Hal tersebut disampaikan Bahlil dalam ajang Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Menurut Bahlil, Indonesia perlu mencari terobosan energi bersih untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, terutama di tengah dinamika geopolitik global. “Atas dasar pemikiran itu, Bapak Presiden Prabowo memerintahkan untuk segera mencari terobosan-terobosan alternatif dalam rangka mendorong kedaulatan energi kita,” ujar Bahlil.

Ia menilai percepatan implementasi energi panas bumi membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, regulator, PLN, dan pelaku usaha. “Tidak ada cara lain selain melakukan percepatan implementasi geotermal supaya bisa menjadi listrik ataupun menjadi yang lain. Harus ada kolaborasi antara pengusaha dan regulator,” lanjutnya.

Indonesia Punya Potensi Geotermal 23,2 GW

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar, mencapai 23,2 GW.

Potensi tersebut menjadi peluang strategis untuk memperkuat sistem kelistrikan nasional sekaligus mendorong Indonesia menjadi pemimpin energi panas bumi dunia.

“Sesuai arahan Pemerintah melalui RUPTL 2025-2034, dari kapasitas 2,8 GW saat ini, ke depan kami akan mendorong penambahan kapasitas sebesar 5,1 GW atau melompat menjadi total 7,9 GW pada 2033 sekaligus berpotensi menjadi yang terbesar di dunia,” tegas Darmawan.

Pengembangan tersebut akan dilakukan secara bertahap melalui 110 proyek panas bumi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 25 unit dengan total kapasitas 0,6 GW akan dikembangkan PLN. Sementara itu, 85 unit lainnya dikembangkan oleh Independent Power Producer (IPP) dengan kapasitas mencapai 4,5 GW.

PLN Buka Kolaborasi GEECA dan SECA

Untuk mempercepat realisasi proyek, PLN juga membuka peluang investasi dan kemitraan melalui skema Geothermal Exploration & Energy Conversion Agreement (GEECA) untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) PLN.

Sementara untuk WKP non-PLN, PLN menawarkan skema Steam Sales & Energy Conversion Agreement (SECA).

Melalui kedua skema tersebut, PLN merencanakan 79 proyek, terdiri dari 45 proyek GEECA dan 34 proyek SECA. Keseluruhan proyek itu diproyeksikan mampu menambah kapasitas panas bumi hingga 3,1 GW.

“PLN membuka kolaborasi seluas-luasnya bagi para mitra melalui skema GEECA dan SECA. Lewat kolaborasi yang fairness ini, diharapkan dapat mengakselerasi pengembangan panas bumi, sebagai salah satu energi baru terbarukan domestik,” kata Darmawan.

Bidik Status Raksasa Geotermal Dunia

Ketua Umum Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) Julfi Hadi menilai momentum satu abad eksplorasi panas bumi di Indonesia harus menjadi titik balik untuk melakukan lompatan besar.

Menurutnya, panas bumi merupakan salah satu keunggulan strategis Indonesia karena dapat berfungsi sebagai energi baseload yang andal, bersih, dan terbarukan. “Indonesia mempunyai local resources, mempunyai indigenous resources, yaitu panas bumi yang terbesar di dunia,” kata Julfi.

Ia menilai kekuatan panas bumi Indonesia yang tersebar dari Sabang hingga Merauke menjadi modal penting untuk mewujudkan Visi Panas Bumi 30.1, yakni menjadikan Indonesia sebagai produsen energi panas bumi nomor satu dunia pada 2030.

Namun, target tersebut membutuhkan sinergi seluruh pihak. “Kunci mutlak menuju Visi Panas Bumi 30.1 adalah kolaborasi,” tegas Julfi.

Proyek Baru Mulai Dipercepat

Komitmen pengembangan panas bumi juga ditandai sejumlah aksi konkret dalam IIGCE 2026.

Kementerian ESDM secara simbolis menyerahkan Surat Keputusan Izin Panas Bumi (SK IPB) untuk WKP Gunung Ungaran kepada PLN.

Di sisi lain, PLN menandatangani Deklarasi Kemitraan Strategis Pengembangan Panas Bumi bersama sejumlah mitra untuk proyek PLTP dengan total kapasitas mencapai 453 megawatt (MW).

PLN Indonesia Power bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk juga menandatangani Letter of Intent (LoI) terkait kerja sama pembelian tenaga listrik dari pengembangan panas bumi Lahendong Binary (Bottoming) Unit 15 MW di Sulawesi Utara serta Ulubelu Binary (Bottoming) Unit 30 MW di Lampung.

Darmawan menegaskan, pengembangan panas bumi bukan sekadar mengejar tambahan kapasitas pembangkit. Energi tersebut juga diharapkan memperkuat pasokan listrik baseload, meningkatkan ketahanan energi, serta mempercepat transisi menuju energi bersih.

“Dengan dukungan Pemerintah dan kolaborasi para mitra, PLN siap mengakselerasi pengembangan panas bumi,” pungkas Darmawan.

Jika target 7,9 GW pada 2033 terealisasi, Indonesia tidak hanya akan memiliki tambahan pasokan listrik bersih dalam skala besar, tetapi juga semakin dekat dengan ambisi menjadi raja geotermal dunia. (RST)

Silakan baca konten menarik lainnya dari Sebaraya.com di →

Pos terkait