Produksi Padi Banten Naik 15,6 Persen, BI dan Pemprov Pacu Produktivitas Pertanian

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, Ameriza M. Moesa (tengah), bersama perwakilan Pemerintahan Provinsi Banten, saat lakukan simbolis panen padi di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, pada Rabu 29 Oktober 2025. (RULIE SATRIA)

TANGERANG, SEBARAYA.COM – Dalam upaya menjaga stabilitas harga pangan dan memperkuat ketahanan pangan daerah, Bank Indonesia Provinsi Banten bersama Pemerintah Provinsi Banten meluncurkan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) 2025, di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Rabu (29/10/2025).

Kegiatan yang mengusung tema “Peningkatan Produktivitas Pertanian melalui Penguatan Sarana Prasarana dan Pemanfaatan Teknologi untuk Menjaga Stabilitas Harga dan Ketahanan Pangan Nasional” ini menjadi langkah strategis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Banten dalam menekan laju inflasi pangan, khususnya pada komoditas beras, cabai, dan bawang – tiga penyumbang utama inflasi di Banten.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Agus M. Tauchid, menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya menjaga inflasi di tingkat daerah agar tetap moderat melalui peningkatan produksi dan efisiensi distribusi pangan.

“Hari ini kita di Kabupaten Tangerang menyaksikan langkah nyata BI Perwakilan Banten dalam mendukung pengendalian inflasi. Ada tiga komoditas yang masih menjadi perhatian, yaitu cabai, bawang, dan beras,” ujar Agus.

Agus mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 September 2025, produksi padi di Banten meningkat 15,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini menunjukkan keberhasilan program peningkatan produktivitas pertanian yang dijalankan pemerintah daerah bersama BI dan TPID.

“Kita patut bersyukur, produksi padi Banten dari Januari hingga Oktober naik 15,6 persen. Ini menandakan arah kebijakan kita sudah tepat dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan nilai tambah bagi petani,” katanya.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan bahwa lahan tidak produktif kini telah dimanfaatkan menjadi lahan pertanian produktif, termasuk kerja sama dengan Polda Banten untuk membuka lahan jagung seluas 750 hektare. Selain itu, Pemprov Banten juga memperluas budidaya bawang merah (6 hektare) dan cabai (8 hektare) di wilayah Serang, Lebak, Pandeglang, dan Tangerang.

Ia juga menyoroti kebijakan subsidi pupuk nasional sebesar 20 persen yang mampu meringankan beban petani. “Beban pertanian mulai berkurang, dan ini berdampak signifikan terhadap peningkatan nilai tambah petani,” ujarnya.

Sinergi Bank Indonesia Dorong Pertanian Modern

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, Ameriza M. Moesa, menjelaskan bahwa GNPIP merupakan bentuk sinergi nyata antara Bank Indonesia, Pemprov Banten, dan TPID dalam menjaga stabilitas harga sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

“Kami ingin produktivitas pertanian tidak hanya menjaga stabilitas harga, tapi juga meningkatkan kesejahteraan petani. Tahun ini inflasi di Banten terkendali di angka 2,31 persen, masih dalam target nasional,” ujar Ameriza.

Ameriza juga menyebut, Banten mencatat pertumbuhan ekonomi positif sebesar 5,3 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Meski demikian, ia mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat semua pihak terlena.

“Meskipun inflasi dan pertumbuhan ekonomi kita bagus, tantangan tetap ada. Kita harus menjaga efisiensi distribusi, meningkatkan produktivitas, dan mengantisipasi dampak perubahan iklim,” katanya.

Ameriza menjelaskan strategi BI dalam pengendalian pangan melalui empat pilar utama atau 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

“Selama tahun ini, kami telah melaksanakan 462 Gerakan Pangan Murah (GPM) di seluruh Provinsi Banten, serta menjalin kerja sama antar daerah untuk menjaga pasokan bahan pokok seperti beras, ayam, telur, dan ikan,” jelasnya.

Selain itu, BI juga menyalurkan berbagai bantuan alat dan sarana pertanian modern seperti combine harvester, hand tractor, greenhouse, serta sistem pertanian berbasis teknologi (IoT). Langkah ini diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk kembali tertarik menekuni sektor pertanian melalui konsep smart farming.

“Sekarang petani kita banyak yang sudah sepuh. Karena itu, kita perlu melibatkan generasi muda dengan sistem pertanian modern. Kalau Tangerang bisa mencetak petani milenial berbasis teknologi, kami siap berkolaborasi,” tambahnya.

Kegiatan GNPIP 2025 diakhiri dengan panen bersama menggunakan mesin combine harvester di lahan pertanian Mauk sebagai simbol penerapan pertanian modern di Banten.

“Kami menghimbau agar kelompok tani memelihara alat bantuan dengan baik dan menyisihkan sebagian hasil panen untuk biaya perawatan, agar alat tetap berfungsi dan produktivitas terus meningkat,” pungkas Ameriza. (RST) 

Silakan baca konten menarik lainnya dari Sebaraya.com di →

Pos terkait