OJK Catat Sektor Jasa Keuangan Jakarta–Banten Tetap Stabil Jelang Akhir 2025

JAKARTA, SEBARAYA.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek) yang juga bertindak sebagai kantor koordinator Provinsi Banten mencatat stabilitas dan ketahanan sektor jasa keuangan di DKI Jakarta dan Banten tetap terjaga menjelang akhir tahun 2025.

Kondisi tersebut ditopang oleh pertumbuhan positif sektor perbankan, pasar modal, dan industri keuangan non-bank (IKNB), serta penguatan ekonomi daerah dan peningkatan pelindungan konsumen.

Bacaan Lainnya

Sejalan dengan tren nasional, kinerja intermediasi perbankan di kedua wilayah menunjukkan tren positif dengan kualitas kredit yang tetap terjaga.

Di DKI Jakarta, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp5.366,32 triliun, tumbuh 18,18 persen (yoy). Penyaluran kredit mencapai Rp4.312,84 triliun atau tumbuh 9,77 persen (yoy) dengan rasio NPL rendah di level 1,62 persen, didominasi kredit modal kerja sebesar 49,01 persen.

Sementara di Provinsi Banten, DPK tumbuh 2,51 persen (yoy) menjadi Rp300,40 triliun, dan kredit meningkat 4,31 persen (yoy) menjadi Rp222,90 triliun dengan NPL 3,53 persen, yang didominasi kredit konsumsi sebesar 52,96 persen.

Capaian tersebut menunjukkan intermediasi perbankan di kedua wilayah masih berjalan sehat dan berkontribusi pada stabilitas sistem keuangan nasional.

Di DKI Jakarta, penyaluran kredit terbesar mengalir ke sektor Industri Pengolahan (18,85 persen), disusul sektor Rumah Tangga (12,55 persen) dan Aktivitas Keuangan dan Asuransi (11,71 persen).

Berbeda dengan Banten, pembiayaan perbankan paling banyak disalurkan ke sektor Rumah Tangga (50,18 persen), diikuti sektor Perdagangan Besar dan Eceran (11,83 persen) serta Industri Pengolahan (11,12 persen). Meski demikian, OJK menekankan perlunya kewaspadaan terhadap kualitas kredit di sektor Kesenian, Hiburan, dan Rekreasi yang memerlukan pemantauan khusus.

Minat masyarakat terhadap investasi pasar modal terus meningkat. Hingga Oktober 2025, jumlah investor di DKI Jakarta mencapai 3,9 juta, tumbuh 58,66 persen (yoy), dengan konsentrasi terbesar di Jakarta Pusat.

Di Banten, jumlah investor mencapai 999,82 ribu, meningkat 26,15 persen (yoy), dengan kontribusi terbesar berasal dari Kota Tangerang. Nilai transaksi saham pun meningkat signifikan. Di DKI Jakarta, nilai transaksi mencapai Rp404,22 triliun, naik 56,75 persen (yoy). Sementara di Banten, nilai transaksi melonjak 130,05 persen (yoy) menjadi Rp50,77 triliun.

Kinerja Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) juga menunjukkan tren positif. Hingga Oktober 2025, piutang pembiayaan di DKI Jakarta mencapai Rp90,09 triliun dengan NPF 2,00 persen, sedangkan di Banten tercatat Rp35,53 triliun dengan NPF 3,21 persen.

Di sektor pinjaman daring (pindar), DKI Jakarta mencatat 2,65 juta rekening aktif dengan outstanding Rp15,20 triliun, sementara Banten memiliki 1,68 juta rekening aktif dengan outstanding Rp6,82 triliun.

Sektor perasuransian di DKI Jakarta mencatat pertumbuhan premi, sementara di Banten terjadi penyesuaian premi dengan klaim yang relatif terkendali. Pada subsektor penjaminan, outstanding penjaminan di Banten tumbuh signifikan 23,30 persen (yoy).

Sebagai bentuk komitmen perlindungan konsumen, hingga 30 November 2025, OJK telah memfasilitasi 8.164 pengaduan di DKI Jakarta dan Banten melalui Aplikasi Portal Pelindungan Konsumen (APPK) dengan tingkat penyelesaian 90,78 persen.

Pengaduan didominasi sektor pinjaman daring, perbankan, dan perusahaan pembiayaan, dengan permasalahan utama terkait perilaku penagihan, restrukturisasi kredit, dan penipuan rekening.

Sepanjang Januari–November 2025, OJK Jabodebek juga telah menggelar 5.041 kegiatan literasi dan edukasi keuangan yang menjangkau lebih dari 15 juta peserta di DKI Jakarta dan Banten. OJK mengimbau masyarakat untuk selalu memeriksa legalitas pinjaman online, investasi, dan tawaran pekerjaan melalui kanal resmi OJK, termasuk Kontak 157, APPK, dan akun media sosial resmi OJK. (RST)

Silakan baca konten menarik lainnya dari Sebaraya.com di →

Pos terkait