Irigasi dan Hama Jadi Tantangan Swasembada Pangan di Serang

SERANG, SEBARAYA.COM – Upaya mewujudkan swasembada pangan di Kabupaten Serang masih dihadapkan pada berbagai persoalan di lapangan. Mulai dari saluran irigasi yang mengalami pendangkalan akibat endapan lumpur, serangan hama yang semakin masif, hingga kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan) menjadi tantangan yang harus segera ditangani agar produktivitas pertanian tetap terjaga.

Berbagai persoalan tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Pengelolaan Irigasi, Penanganan Hama, dan Mitigasi Bencana dalam Rangka Mendukung Swasembada Pangan yang digelar di Gedung PGRI Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Selasa (30/6/2026). Forum ini mempertemukan kelompok tani dengan instansi teknis untuk mencari solusi atas berbagai kendala yang dihadapi petani.

Ketua Kelompok Tani Tunas Tani Desa Cerukcuk, Kecamatan Tanara, Mohamad Abas, mengatakan persoalan paling mendesak saat ini adalah terganggunya pasokan air irigasi akibat pendangkalan di Kali Sultan dan Kali Cikopo. Kondisi tersebut menyebabkan distribusi air menuju areal persawahan tidak berjalan optimal.

“Normalisasi sungai sangat dibutuhkan agar aliran air lancar kembali. Selain itu, kami juga menghadapi gangguan hama seperti wereng, ulat sundep, tikus, dan walang sangit yang kerap merusak tanaman padi,” ujarnya.

Selain persoalan irigasi, Abas mengapresiasi ketersediaan pupuk bersubsidi yang saat ini dinilai cukup memadai dengan harga yang terjangkau. Namun, ia berharap kualitas kandungan nutrisi pupuk dapat terus ditingkatkan agar hasil panen semakin maksimal.

Ia juga meminta dukungan pemerintah dalam penyediaan alat dan mesin pertanian seperti traktor, mesin panen, serta pestisida untuk meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional.

“Intinya kami memohon kepada pemerintah tentang ketersediaan air dan pupuk. Mudah-mudahan kami para petani bisa memaksimalkan hasil pertanian kami agar memenuhi swasembada pangan, dan pemerintah juga mendukung kami sehingga kami bisa makmur, pemerintah dan rakyatnya juga bisa terpenuhi untuk pangan ini,” katanya.

Menanggapi aspirasi petani, Ketua Pengawas Saluran Irigasi Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3), Andriyanto, memastikan pihaknya berkomitmen menjaga kelancaran distribusi air bagi lahan pertanian.

Menurutnya, pada 2025 pihak BBWSC3 telah melakukan normalisasi saluran primer serta membentuk tim pengelola teknis untuk mempercepat penanganan di lapangan.

“Kami melayani aliran air mulai dari hulu Bendungan Pamarayan hingga ke hilir. Terkait permohonan normalisasi di Pembuang Cikopo yang sudah bertahun-tahun tidak ditangani, kami mengarahkan kelompok tani untuk mengajukan permohonan resmi agar dapat diupayakan penggunaan alat berat,” jelas Andriyanto.

Ia juga mengimbau para petani untuk turut menjaga kebersihan jaringan irigasi dengan tidak membuang sampah ke saluran air serta segera melaporkan setiap kerusakan kepada petugas agar dapat ditangani lebih cepat.

Sementara itu, Koordinator Fungsional Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Banten, Iwan Purnama, mengungkapkan bahwa serangan hama tikus menjadi ancaman terbesar bagi tanaman padi di wilayah Tanara.

Menurutnya, penggunaan umpan racun saat ini kurang efektif karena tikus lebih tertarik memakan bulir padi yang mulai berisi. Oleh sebab itu, pengendalian akan dilakukan secara serempak setelah masa panen menggunakan metode jebakan dalam skala luas.

“Kami akan melakukan pengendalian secara serempak menggunakan jebakan luas setelah masa panen tiba. Selain itu, kami juga menyediakan bahan pengendalian untuk wereng dan penggerek batang sesuai prosedur yang berlaku,” ujarnya.

Menanggapi usulan penggunaan drone untuk penyemprotan pestisida, Iwan menjelaskan bahwa peralatan tersebut masih dalam proses perbaikan dan diharapkan segera dapat kembali digunakan untuk mendukung pengendalian hama secara lebih efektif.

Ia juga mengimbau para petani agar menyampaikan setiap kebutuhan maupun kendala melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) di masing-masing kecamatan agar koordinasi penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.

“Harapan dari kami kalau ada apa-apa bisa lewat UPT yang ada di setiap kecamatan, dan nanti rekan kami yang akan mengurus bagaimana caranya berkoordinasi dengan kami yang ada di kantor,” ucap Iwan.

Melalui sinergi antara pemerintah daerah, instansi teknis, dan kelompok tani, berbagai persoalan mulai dari irigasi, pengendalian hama, hingga pemenuhan sarana produksi pertanian diharapkan dapat segera teratasi. Langkah tersebut menjadi kunci untuk menjaga produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan daerah, sekaligus mendukung target swasembada pangan yang berkelanjutan di Kabupaten Serang. (RST)

Silakan baca konten menarik lainnya dari Sebaraya.com di →

Pos terkait