Jika Bali Bisa Mendunia, Mengapa Banten Tidak? Mengungkap Potensi yang Terlupakan

BALI, SEBARAYA.COM – Bali kembali membuktikan diri sebagai kiblat pariwisata dunia setelah dinobatkan sebagai Destinasi Wisata Terbaik Dunia Peringkat 1 dalam ajang Tripadvisor Travelers’ Choice Awards Best of the Best Destination List 2026. Prestasi tersebut semakin mengukuhkan Pulau Dewata sebagai magnet wisata internasional yang mampu menggerakkan roda ekonomi hingga ratusan triliun rupiah setiap tahunnya.

Di balik gemerlap pertunjukan Tari Kecak di Uluwatu, pantai-pantai eksotis, hingga budaya yang tetap terjaga, terdapat strategi pembangunan pariwisata yang terintegrasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha.

Bacaan Lainnya

Lalu, mampukah Provinsi Banten yang memiliki garis pantai indah dari Anyer, Carita, Sawarna hingga Tanjung Lesung mengikuti jejak Bali sebagai destinasi wisata unggulan nasional bahkan dunia?

Secara geografis, Banten memiliki modal wisata yang sangat menjanjikan. Pantai berpasir putih, kawasan konservasi, desa adat, wisata sejarah, hingga destinasi modern terus bermunculan dalam beberapa tahun terakhir.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat sebanyak 553.328 wisatawan mancanegara berkunjung ke Bali pada April 2026 atau meningkat 17,21 persen dibanding bulan sebelumnya. Sementara kunjungan wisatawan nusantara mencapai 2,3 juta orang pada Mei 2026.

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Bali mencapai 57,94 persen, dengan rata-rata lama tinggal wisatawan 2,87 malam. Bahkan wisatawan mancanegara rata-rata menghabiskan waktu hingga satu pekan lebih saat berlibur di Pulau Dewata.

Dari sisi fiskal, sektor pariwisata juga memberikan kontribusi signifikan melalui penerimaan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) yang mencapai Rp4,13 triliun hingga Juni 2026.

Sementara itu, BPS Provinsi Banten mencatat ekonomi Banten tumbuh 5,64 persen pada Triwulan I 2026 dengan nilai PDRB mencapai Rp247,20 triliun. Sektor akomodasi dan makan minum menjadi salah satu penyumbang pertumbuhan tertinggi sebesar 15,29 persen, disusul sektor transportasi dan pergudangan sebesar 13,84 persen.

Jumlah perjalanan wisatawan nusantara ke Banten juga menunjukkan tren positif, meningkat dari 5,16 juta perjalanan pada Januari 2026 menjadi 5,76 juta perjalanan pada Mei 2026.

Meski demikian, rata-rata lama menginap wisatawan di hotel berbintang Banten masih berada di angka 1,40 malam, jauh di bawah Bali. Fakta ini menunjukkan Banten masih lebih banyak dipilih sebagai destinasi wisata singkat atau short getaway dibanding tujuan liburan utama.

Tiga Strategi Bali yang Layak Diadopsi Banten

Perbedaan tersebut menjadi sinyal bahwa Banten memerlukan strategi baru agar sektor pariwisata mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Setidaknya terdapat tiga konsep pembangunan pariwisata Bali yang dinilai dapat diterapkan di Banten.

  1. Menggabungkan Budaya dan Alam sebagai Daya Tarik Utama

Bali tidak hanya menjual panorama pantai, tetapi juga pengalaman budaya yang kuat. Tradisi, upacara adat, hingga kesenian menjadi bagian dari paket wisata.

Konsep serupa dapat diterapkan di Banten dengan mengangkat kekayaan budaya seperti Kesultanan Banten, Suku Baduy, Debus, Kampung Adat Cisitu, hingga berbagai tradisi lokal menjadi atraksi wisata berkelas internasional tanpa menghilangkan nilai budaya yang melekat.

  1. Memperkuat Peran UMKM dan Desa Wisata

Kesuksesan Bali juga lahir dari keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama industri pariwisata.

Model pemberdayaan desa wisata dapat menjadi inspirasi bagi Banten untuk memperkuat ekonomi masyarakat melalui homestay, kuliner lokal, kerajinan tangan, jasa pemandu wisata, hingga ekonomi kreatif berbasis komunitas sehingga manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati investor besar.

  1. Mengembangkan Pariwisata Berkelanjutan

Bali mulai mengembangkan konsep sustainable tourism melalui pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Dengan keberadaan KEK Tanjung Lesung, Taman Nasional Ujung Kulon, serta posisi strategis yang berdekatan dengan Bandara Soekarno-Hatta, Banten dinilai memiliki peluang besar mengembangkan ecotourism, wellness tourism, dan wisata konservasi yang ramah lingkungan.

Wisatawan Banten: Sinergi Menjadi Kunci Kesuksesan Bali

Salah seorang wisatawan asal Banten, Tri, yang ditemui saat berlibur di Pantai Kuta, Bali, menilai keberhasilan Bali bukan semata karena keindahan alamnya.

Menurutnya, kekuatan utama Bali terletak pada sinergi antara pemerintah, masyarakat, organisasi pariwisata, dan pelaku usaha.

“Pariwisata Bali sangat bagus, terorganisir dan terkoordinasi dengan baik. Masyarakatnya memiliki kesadaran tinggi terhadap daya tarik wisata, ramah, akomodatif, serta didukung sinergi kuat antara pemerintah dan berbagai organisasi pariwisata seperti ASITA, PHRI, ITDC hingga pelaku usaha rental kendaraan,” ujarnya, Jumat (24/7/2026).

Ia menilai Banten sebenarnya memiliki banyak destinasi potensial seperti Pantai Sawarna, Tanjung Lesung, Bukit Waruwangi, Bukit Sinyonya, Kawasan Wisata Budaya Baduy, Kampung Adat Cisitu, Banten Lama, hingga kawasan wisata modern seperti Aloha PIK 2 dan Land’s End PIK 2.

Menurutnya, seluruh potensi tersebut akan berkembang lebih cepat apabila dibangun melalui kolaborasi lintas sektor serta pemberdayaan UMKM.

“Peran UMKM sangat besar karena mampu menggerakkan perekonomian daerah. Jika UMKM kuat, maka daerah juga akan semakin kuat,” tegasnya.

Momentum Banten Menjadi Destinasi Wisata Unggulan

Banten memiliki seluruh modal untuk menjadi salah satu destinasi wisata terbaik di Indonesia. Keindahan alam, kekayaan budaya, posisi strategis sebagai gerbang Pulau Jawa, hingga dukungan kawasan ekonomi khusus menjadi kekuatan yang belum dimiliki banyak daerah.

Tantangan berikutnya adalah menghadirkan strategi pembangunan yang terintegrasi melalui promosi digital, peningkatan kualitas layanan, kalender event budaya yang berkelanjutan, penguatan konektivitas, serta pemberdayaan masyarakat lokal.

Apabila langkah tersebut dijalankan secara konsisten, sektor pariwisata tidak hanya akan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM, mengurangi kemiskinan di kawasan pesisir, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Banten yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Keberhasilan Bali menjadi destinasi wisata terbaik dunia menunjukkan bahwa pariwisata bukan sekadar menjual panorama alam, melainkan membangun ekosistem yang melibatkan seluruh elemen daerah. Kini, saatnya Banten memanfaatkan momentum untuk membuktikan bahwa provinsi di ujung barat Pulau Jawa ini juga mampu menjadi destinasi wisata kelas dunia. (RST)  

Silakan baca konten menarik lainnya dari Sebaraya.com di →

Pos terkait