SERANG, SEBARAYA.COM – Di balik tenangnya hamparan air Situ Citaman di Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, tersimpan kisah inspiratif tentang ketekunan, kepedulian, dan semangat pantang menyerah. Sosok itu adalah Rohman, seorang pegawai honorer Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Banten yang sehari-hari bertugas menjaga kebersihan kawasan situ.
Siapa sangka, dari tanaman lumut yang selama ini dianggap biasa bahkan kerap dipandang sebelah mata, Rohman mampu menciptakan peluang usaha yang menghasilkan pendapatan jutaan rupiah setiap bulan.
Semua bermula dari sebuah informasi sederhana yang ia dengar dari seseorang. Saat itu, Rohman mendapat kabar bahwa lumut air tawar ternyata banyak dicari para penghobi memancing, khususnya sebagai umpan ikan nila.
Informasi tersebut membangkitkan rasa penasarannya. Di tengah aktivitasnya menjaga Situ Citaman, ia melihat lumut tumbuh cukup banyak di area perairan. Alih-alih membiarkannya begitu saja, Rohman mencoba memanfaatkan potensi tersebut dengan mengumpulkan dan menjual lumut kepada para pemancing.
Tak disangka, respons pasar ternyata sangat baik.
Permintaan lumut terus meningkat dari berbagai daerah di Banten. Para penghobi memancing mulai mengenal kualitas lumut dari Situ Citaman yang dinilai cocok untuk umpan ikan nila.
Melihat peluang yang semakin menjanjikan, Rohman pun mulai menekuni budidaya lumut secara lebih serius. Ia tidak hanya mengandalkan lumut yang tumbuh alami, tetapi juga mempelajari cara menjaga dan merawat ekosistem agar lumut tetap tumbuh dengan baik.
“Awalnya saya tidak punya pengetahuan tentang budidaya lumut. Namun akhirnya saya mencoba mempelajari dengan banyak membaca buku, belajar dari internet, dan bertanya kepada banyak orang. Akhirnya saya paham bagaimana menjaga dan merawat lumut agar terus tumbuh dan tidak mati,” ungkap Rohman.

Kesungguhannya membuahkan hasil. Kini, dalam sehari Rohman mampu memanen antara lima hingga sepuluh karung lumut. Aktivitas panen biasanya dilakukan mulai pukul 10.00 WIB hingga 15.00 WIB.
Dari usaha yang berawal dari rasa penasaran itu, Rohman mengaku mampu meraih omzet berkisar 5-8 juta setiap bulan.Namun bagi Rohman, keberhasilan tersebut bukan semata soal keuntungan finansial.
Seiring meningkatnya permintaan, ia justru membuka peluang bagi pemuda-pemuda di sekitar Situ Citaman untuk ikut merasakan manfaat ekonomi dari usaha tersebut. Beberapa pemuda setempat kini turut membantu proses pencarian dan panen lumut.
“Alhamdulillah, budidaya lumut yang saya lakukan dapat bermanfaat untuk orang lain. Saya mengajak beberapa pemuda di wilayah ini untuk membantu memanen atau mencari lumut di Situ Citaman. Lumayan juga untuk mereka bisa memenuhi kebutuhannya,” kata Rohman.
Tidak berhenti sampai di situ, sebagian keuntungan yang diperoleh dari penjualan lumut juga ia sisihkan untuk berbagai kegiatan sosial di lingkungan sekitar. seperti memberikan bantuan kepada anak yatim dan janda, serta membantu perbaikan fasilitas umum warga.
“Saya menyisihkan sebagian pendapatan untuk membantu kebutuhan fasilitas masyarakat sekitar, membantu anak yatim dan janda,” ujarnya.
Dedikasi Rohman terhadap Situ Citaman juga tidak bisa dipisahkan dari kesuksesan usahanya saat ini. Ia mengenang kondisi situ ketika pertama kali menerima amanah sebagai penjaga kawasan tersebut. Saat itu, Situ Citaman dipenuhi sampah dan tanaman eceng gondok yang menghambat aliran air.
Kondisi lingkungan yang kurang terawat membuat kawasan tersebut terlihat kumuh dan tidak nyaman.
Dengan keterbatasan yang ada, Rohman perlahan melakukan pembersihan secara rutin. Ia juga aktif mengusulkan berbagai perbaikan kepada pemerintah setempat, termasuk pemasangan paving block dan penataan area pinggir situ.
Hasilnya kini mulai terlihat. Situ Citaman menjelma menjadi kawasan yang lebih bersih, tertata, dan nyaman dipandang.
“Saat saya diberi amanah menjaga Situ Citaman ini, kondisinya sangat tidak layak. Banyak sampah dan eceng gondok sehingga aliran air tidak berjalan dengan baik. Seiring waktu saya lakukan pembersihan dan mengajukan berbagai perbaikan. Alhamdulillah sekarang terlihat lebih rapi dan bersih,” jelasnya.
Kisah Rohman menjadi bukti bahwa peluang sering kali hadir dari hal-hal yang dianggap sederhana. Dengan kemauan untuk belajar, keberanian mencoba, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, tanaman lumut yang tumbuh di perairan dapat berubah menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.
Lebih dari itu, keberhasilannya juga menghadirkan manfaat sosial bagi masyarakat sekitar. Dari menjaga kebersihan situ hingga memberdayakan pemuda dan membantu sesama, Rohman menunjukkan bahwa rezeki yang baik adalah rezeki yang mampu memberi manfaat bagi banyak orang.
“Saya sangat bersyukur dengan apa yang saya lakukan ini bisa bermanfaat untuk orang lain,” pungkasnya.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi saat ini, kisah Rohman menjadi pengingat bahwa kreativitas, kerja keras, dan kepedulian sosial dapat tumbuh dari mana saja, bahkan dari hamparan lumut yang mengapung tenang di perairan Situ Citaman. (RST)







