Miris! Jalan Penghubung Cikeusal–Blokang Bak Arena Offroad, Warga Pertanyakan Kinerja Pemkab Serang

Tampak sejumlah pengendara sepeda motor saat melintasi jalan Tambak Pamarayan Kabupaten Serang, yang rusak dan memprihatinkan. / FOTO: RULIE SATRIA

SERANG, SEBARAYA.COM – Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur yang terus digaungkan pemerintah, kondisi memprihatinkan justru masih ditemukan di sejumlah wilayah Kabupaten Serang. Salah satunya ruas jalan penghubung dari arah Cikeusal menuju Pasar Blokang yang berada di perbatasan Kecamatan Pamarayan dan Kecamatan Bandung.

Jalan yang menjadi akses vital bagi masyarakat tersebut kini kondisinya bak lintasan offroad. Sepanjang kurang lebih dua kilometer, permukaan jalan dipenuhi bebatuan, lubang, serta kerusakan parah yang membuat pengendara harus berjibaku setiap kali melintas.

Bacaan Lainnya

Ironisnya, meski menjadi jalur alternatif yang ramai digunakan masyarakat dari arah Serang menuju kawasan industri Cikande maupun sebaliknya, hingga kini belum terlihat adanya tanda-tanda perbaikan dari pemerintah daerah.

Tajudin, salah seorang warga Cikeusal yang hampir setiap hari melintasi jalur tersebut untuk bekerja di kawasan Cikande, mengaku kondisi jalan sudah jauh dari kata layak.

“Jalan alternatif penghubung dari arah Cikeusal menuju Pasar Blokang ini sudah sangat parah. Layaknya arena offroad karena dipenuhi bebatuan. Kalau turun hujan banyak genangan air, jalan menjadi berlumpur dan sangat berbahaya bagi pengendara,” ujarnya, Sabtu (20/6/2026).

Menurut Tajudin, persoalan tidak hanya berhenti pada kerusakan jalan. Minimnya penerangan jalan umum membuat kondisi semakin mengkhawatirkan ketika malam hari.

“Sangat gelap. Kasihan pengguna jalan yang melintas malam hari. Kiri kanan jalan itu area persawahan. Kami khawatir ada ular atau hewan lain yang membahayakan pengguna jalan,” katanya.

Lebih jauh, Tajudin menilai pemerintah daerah seolah menutup mata terhadap penderitaan masyarakat yang setiap hari harus menghadapi risiko kecelakaan akibat kondisi jalan yang rusak.

“Kami berharap Pemerintah Kabupaten Serang, khususnya dinas terkait, bisa membuka mata dan memiliki empati kepada masyarakat. Jangan hanya diam. Kami bayar pajak, seharusnya fasilitas dasar seperti jalan diperhatikan. Dengan kondisi seperti ini, bukan hanya merusak kendaraan tetapi juga bisa mengancam nyawa orang yang melintas,” tegasnya.

Keluhan serupa disampaikan Suta, warga setempat yang setiap hari menyaksikan lalu lalang kendaraan melintasi ruas jalan tersebut.

Menurutnya, meski kondisinya rusak berat, jalan tersebut tetap menjadi pilihan utama banyak pengendara karena menjadi jalur alternatif yang menghubungkan sejumlah wilayah strategis di Kabupaten Serang.

“Saya kasihan melihat para pengendara. Jalannya rusak parah, tetapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan diperbaiki. Padahal dari pagi sampai malam ramai dilalui motor, mobil pribadi, kendaraan angkutan hingga truk,” ujarnya.

Kondisi memprihatinkan ini semakin mempertegas persoalan infrastruktur yang masih menjadi pekerjaan rumah di sejumlah wilayah Kabupaten Serang. Selain ruas jalan Cikeusal-Blokang, kerusakan jalan juga kerap dikeluhkan warga di jalur Tambak-Blokang hingga kawasan Desa Damping, Kecamatan Pamarayan.

Di beberapa titik bahkan ditemukan lubang besar, permukaan jalan yang terkelupas, serta kondisi jalan yang menyulitkan kendaraan roda empat untuk melintas dengan aman.

Tak hanya itu, pengguna jalan di kawasan tersebut juga dihadapkan pada ancaman lain berupa tiang jaringan internet yang tampak miring di tepi jalan dan berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan apabila tidak segera ditangani.

Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak menunggu jatuhnya korban jiwa sebelum melakukan tindakan nyata. Sebab bagi warga, jalan bukan sekadar sarana transportasi, melainkan urat nadi perekonomian yang setiap hari menopang aktivitas masyarakat, pekerja, pelajar, hingga pelaku usaha.

Kini publik menanti langkah konkret Pemerintah Kabupaten Serang untuk menjawab keluhan masyarakat yang sudah bertahun-tahun menghadapi kerusakan infrastruktur tersebut. Pertanyaannya, sampai kapan warga harus bertaruh nyawa di jalan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. (RST) 

Silakan baca konten menarik lainnya dari Sebaraya.com di →

Pos terkait