Daftar Isi
- 1 Produksi Beras Banten Turun 31.291 Ton
- 2 Gertam Terhubung ke Lima Wilayah Banten
- 3 Dua Strategi Pemulihan Produksi Beras
- 4 Gunakan Drum Seeder, Dorong Efisiensi Tanam
- 5 PM-AAS Ditargetkan Tutup 18 Persen Kesenjangan Produksi
- 6 BRMP Banten: Produksi Harus Bermuara pada Kesejahteraan Petani
- 7 Wali Kota Serang Apresiasi Kolaborasi Lintas Sektor
SERANG, SEBARAYA.COM – Produksi beras di Provinsi Banten mengalami penurunan sebesar 3,23 persen pada periode Januari–Oktober 2026. Kondisi ini mendorong Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Banten bersama Bank Indonesia (BI) dan pemerintah daerah mempercepat gerakan tanam serentak berbasis pertanian modern.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Gerakan Tanam (Gertam) Serentak Pertanian Modern – Advanced Agricultural System (PM-AAS), yang digelar di lahan Kelompok Tani Priangan Mukti 1, Kelurahan Kilasah, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memulihkan produksi pangan Banten, tidak hanya melalui peningkatan luas tanam, tetapi juga dengan mendorong produktivitas pertanian berbasis teknologi.
Produksi Beras Banten Turun 31.291 Ton
Berdasarkan data KSA BPS dan Kementerian Pertanian September 2026, produksi beras Banten pada Januari–Oktober 2026 tercatat sebanyak 937.610 ton. Angka tersebut menurun 31.291 ton atau 3,23 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, yang mencapai 968.901 ton.
Penurunan produksi tersebut sejalan dengan berkurangnya luas panen dan produktivitas padi di Banten. Luas panen tercatat turun dari 330.882 hektare menjadi 327.178 hektare, atau berkurang sekitar 3.705 hektare. Sementara produktivitas menurun dari 5,14 ton per hektare menjadi 5,03 ton per hektare.
Data tersebut menunjukkan bahwa pemulihan produksi beras Banten membutuhkan strategi yang menyeluruh, baik melalui percepatan tanam maupun peningkatan hasil panen per hektare.
Gertam Terhubung ke Lima Wilayah Banten
Gertam Serentak PM-AAS dihadiri Kepala BRMP Banten Andry Polos, Wali Kota Serang Agis Nur Aulia, Kepala Ekonomi Pembangunan Provinsi Banten, Direktur Hilirisasi Ditjen Tanaman Pangan, Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Pemanfaatan Sumber Daya Lahan Marginal, Direktur PEPI, serta sejumlah pejabat lingkup Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Banten.
Kegiatan ini juga melibatkan penyuluh pertanian, kelompok tani, dan petani setempat. Pelaksanaan dipusatkan di lahan Kelompok Tani Priangan Mukti 1, Kota Serang, serta dilaksanakan secara daring dengan terhubung ke empat titik Gertam lainnya di Kabupaten Tangerang, Lebak, Pandeglang, dan Kabupaten Serang.
Sinergi lintas sektor tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat pemulihan produksi pangan di wilayah Banten.
Dua Strategi Pemulihan Produksi Beras
Dalam pelaksanaannya, strategi pemulihan produksi beras Banten diarahkan melalui pendekatan dual-track atau dua jalur.
Track A berfokus pada peningkatan kuantitas produksi melalui:
- LTT reguler atau Luas Tambah Tanam.
- Program OPLAH.
- Pengembangan padi gogo.
Strategi ini diarahkan untuk memulihkan luas panen yang mengalami penurunan.
Sementara itu, Track B berfokus pada peningkatan kualitas melalui implementasi PM-AAS, yakni sistem budidaya padi intensif berbasis teknologi untuk meningkatkan produktivitas per hektare.
Berdasarkan kebutuhan intervensi wilayah, defisit produksi terbesar tercatat di Pandeglang, Lebak, Tangerang, dan Kota Serang. Adapun Kabupaten Serang menjadi salah satu wilayah benchmark dalam pelaksanaan strategi pemulihan produksi.
Gunakan Drum Seeder, Dorong Efisiensi Tanam
Pada pelaksanaan Gertam, penanaman padi dilakukan menggunakan drum seeder. Teknologi ini digunakan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja dalam proses tanam.
Kebutuhan benih mencapai sekitar 70 kilogram per hektare. Benih tersebut telah mendapat perlakuan untuk membantu melindungi dari serangan burung dan hewan lainnya. Implementasi PM-AAS sendiri mengintegrasikan mekanisasi modern, teknologi digital, dan pertanian presisi dalam sistem budidaya padi.
Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong efisiensi penggunaan sumber daya pertanian.
PM-AAS Ditargetkan Tutup 18 Persen Kesenjangan Produksi
BRMP Banten mendorong PM-AAS sebagai salah satu instrumen penting untuk menutup kesenjangan produksi beras di Banten. Data menunjukkan, kesenjangan produksi beras Banten mencapai 31.291 ton. Dari angka tersebut, kontribusi 1.000 hektare PM-AAS diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 5.630 ton beras.
Dengan asumsi 95 persen panen efektif, produktivitas rata-rata 10,40 ton gabah kering giling (GKG) per hektare, dan konversi beras sebesar 0,57, kontribusi tersebut setara sekitar 18 persen dari kesenjangan produksi. Artinya, PM-AAS memiliki potensi menjadi salah satu instrumen penting dalam pemulihan produksi beras Banten.
Namun, implementasinya tetap perlu berjalan beriringan dengan percepatan luas tanam melalui LTT, OPLAH, dan pengembangan padi gogo.
BRMP Banten: Produksi Harus Bermuara pada Kesejahteraan Petani
Kepala BRMP Banten Andry Polos menegaskan, pelaksanaan Gertam PM-AAS tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar peningkatan tonase produksi.
Menurutnya, peningkatan produksi juga harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani.
Produksi pangan yang meningkat diharapkan dapat memperkuat ketersediaan dan stabilitas pasokan beras. Kondisi tersebut pada akhirnya turut mendukung pengendalian inflasi serta penguatan ekonomi daerah.
Hal ini menjadi titik temu penting dalam sinergi antara BRMP Banten, Bank Indonesia, dan pemerintah daerah untuk mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan di Provinsi Banten.
Wali Kota Serang Apresiasi Kolaborasi Lintas Sektor
Sementara itu, Wali Kota Serang Agis Nur Aulia menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Gertam Serentak PM-AAS yang digelar melalui kolaborasi berbagai pihak.
Dalam sambutannya, Agis menilai kolaborasi dan sinergi menjadi kunci kekuatan untuk mengakselerasi peningkatan produksi pangan, khususnya dalam menghadapi tantangan pertanian saat ini.
Pelaksanaan gerakan tanam serentak tersebut diharapkan dapat memperkuat langkah bersama dalam menjaga ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas pertanian, dan mendukung kesejahteraan petani di Banten.
Dengan menggabungkan percepatan luas tanam dan penerapan teknologi pertanian modern, Banten berupaya menekan kesenjangan produksi beras sekaligus menjaga stabilitas pasokan pangan daerah. (RST)







