Pendekar Cimande Serukan Deklarasi Damai Pasca Pilkada, “Rapatkan Barisan Demi Banten yang Harmonis”

SERANG, SEBARAYA.COM — Suasana malam di Padepokan Pencak Silat Cimande Macan Guling, Cimuncang, Kota Serang, berubah menjadi ajang semangat kebangsaan dan solidaritas sosial, Selasa (3/6/2025). Di tempat yang biasanya dipenuhi gemuruh latihan jurus silat, kini lantang terdengar seruan moral: Deklarasi Damai Pasca Pilkada Serentak 2024.

Acara ini dipimpin langsung oleh Ketua Padepokan Cimande Macan Guling Provinsi Banten, Deni Arisandi, dan menjadi momen penting untuk memperkuat kembali nilai-nilai persatuan usai pesta demokrasi lima tahunan yang telah dilangsungkan pada 2024.

“Kami mengajak seluruh pengurus padepokan dan masyarakat Banten agar tidak mudah terpecah oleh isu-isu provokatif maupun informasi yang tidak jelas sumbernya,” tegas Deni di hadapan puluhan pendekar dan tokoh masyarakat yang hadir malam itu.

Deni menegaskan bahwa siapapun kepala daerah yang terpilih melalui Pilkada maupun Pemungutan Suara Ulang (PSU), sudah sepatutnya diterima dengan lapang dada. “Yang terpenting sekarang adalah menjaga situasi agar tetap harmonis dan damai. Kita rapatkan barisan untuk kemajuan Banten,” ujarnya dengan penuh semangat.

Lebih dari sekadar seremoni, Deklarasi Damai ini mencerminkan peran strategis komunitas budaya dan bela diri tradisional dalam menjaga ketentraman sosial-politik di tengah masyarakat.

Dalam isi deklarasi, para pendekar menyuarakan komitmen untuk:

* Menjaga kondusivitas dan keamanan wilayah,

* Menolak segala bentuk provokasi dan penyebaran hoaks,

* Meneguhkan semangat kebersamaan lintas pilihan politik.

Sebagai langkah lanjutan, Deni mengumumkan akan mengeluarkan surat edaran kepada para ketua padepokan Cimande Macan Guling di tingkat kabupaten dan kota. Tujuannya jelas: memperluas gaung pesan damai dan mencegah potensi konflik horizontal di akar rumput.

“Kami ingin seluruh wilayah Banten, khususnya Kabupaten Serang dan Kota Serang, tetap kondusif. Mari kita buktikan bahwa bela negara bukan hanya lewat jurus, tapi lewat menjaga keharmonisan,” ucapnya.

Kehadiran para tokoh masyarakat dan pendekar dari berbagai penjuru Banten memberi makna tersendiri. Mereka menyatukan suara, bahwa politik adalah alat, bukan alasan untuk pecah belah.

Dengan momentum ini, Padepokan Cimande Macan Guling menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi penjaga moral bangsa—menjadi jangkar nilai di tengah riak politik. Sebagaimana ditutup oleh Deni: “Indonesia ini besar karena keberagaman. Tugas kita hari ini adalah memastikan keberagaman itu tidak menjadi celah perpecahan, tapi justru menjadi kekuatan.” (RST)

Silakan baca konten menarik lainnya dari Sebaraya.com di →

Pos terkait