PANDEGLANG, SEBARAYA.COM – Hutan Kopi Citaman Lawangtaji di lereng Gunung Karang, Kabupaten Pandeglang, kini bersiap menjadi destinasi agroeduwisata baru di Banten. Melalui dukungan PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Banten dan PLN Peduli, kawasan yang selama ini dikenal sebagai sentra kopi lokal akan dikembangkan menjadi K-TRACK (Kopi Tourism & Rural Agro Creative Gunung Karang), sebuah konsep wisata edukasi berbasis konservasi yang menggabungkan alam, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.
Inisiatif tersebut berawal dari gagasan Ketua Kelompok Petani Kopi Citaman Lawangtaji, Maman, yang ingin memperkenalkan potensi Hutan Kopi Gunung Karang kepada masyarakat luas sekaligus meningkatkan kesejahteraan para petani kopi.
Melihat besarnya potensi kawasan tersebut, PLN UID Banten menghadirkan dukungan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebagai bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
General Manager PLN UID Banten Tonny Bellamy mengatakan, K-TRACK menjadi bukti bahwa program pemberdayaan masyarakat akan memberikan manfaat berkelanjutan ketika dibangun dari potensi lokal dan dijalankan bersama masyarakat.
“Kami percaya program pemberdayaan yang berkelanjutan adalah program yang tumbuh dari potensi lokal dan dijalankan secara konsisten bersama masyarakat. K-TRACK membuktikan bahwa konservasi lingkungan, pengembangan ekonomi, dan pariwisata dapat berjalan beriringan. PLN hadir bukan hanya sebagai penyedia listrik, tetapi juga sebagai mitra pembangunan yang mendukung lahirnya ekosistem ekonomi masyarakat yang mandiri dan berkelanjutan,” ujar Tonny.
Melalui K-TRACK, wisatawan nantinya tidak hanya menikmati secangkir kopi, tetapi juga diajak menyusuri jalur “Kopi Trip” di kawasan hutan kopi yang telah berusia puluhan hingga ratusan tahun pada ketinggian sekitar 458 meter di atas permukaan laut.
Sepanjang perjalanan, pengunjung akan diperkenalkan pada proses budidaya kopi, upaya konservasi hutan, hingga kekayaan biodiversitas yang menjadi identitas Gunung Karang.
Konsep tersebut diharapkan menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya rekreatif, tetapi juga edukatif serta mampu meningkatkan nilai ekonomi kopi lokal.
Kisah Unik Kopi Leupeh Lalay
Salah satu daya tarik utama kawasan ini adalah keberadaan lalay, sebutan masyarakat setempat untuk kelelawar pemakan buah yang berperan sebagai penyerbuk alami tanaman kopi.
Peran satwa tersebut melahirkan produk khas bernama Kopi Leupeh Lalay, kopi asli Gunung Karang yang dikenal memiliki karakter rasa dengan tingkat keasaman rendah, cita rasa bersih (clean cup), sentuhan buah (fruity), serta sweet aftertaste yang menjadi ciri khasnya.
Melalui K-TRACK, cerita mengenai hubungan harmonis antara alam, satwa, dan masyarakat lokal dikemas menjadi pengalaman wisata yang unik sekaligus meningkatkan nilai jual kopi khas Pandeglang.
Ketua Kelompok Petani Kopi Citaman Lawangtaji, Kang Maman, mengatakan K-TRACK lahir dari keinginan masyarakat agar kopi Gunung Karang tidak hanya dikenal sebagai produk, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan alam dan budaya Banten.
“Kami ingin orang datang bukan hanya membeli kopi, tetapi juga merasakan pengalaman menyusuri hutan kopi, mengenal cerita di balik Kopi Leupeh Lalay, serta melihat bagaimana masyarakat menjaga alam yang menjadi sumber kehidupan kami. Dukungan dari PLN memberikan semangat dan kesempatan bagi kami untuk mewujudkan mimpi tersebut sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ungkapnya.
PLN UID Banten berharap pengembangan K-TRACK dapat menjadi contoh pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal yang mampu menciptakan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Selain membuka peluang usaha baru di sektor pariwisata, program ini juga diharapkan semakin memperkenalkan Hutan Kopi Gunung Karang dan Kopi Leupeh Lalay sebagai salah satu kekayaan unggulan Kabupaten Pandeglang yang layak dikenal hingga tingkat nasional.
Melalui kolaborasi antara PLN dan masyarakat, kawasan hutan kopi ini diproyeksikan menjadi destinasi agroeduwisata unggulan yang menggabungkan konservasi alam, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi secara berkelanjutan. (RST)







