SERANG, SEBARAYA.COM – Pengamat terorisme dan penggiat Rumah Daulah Buku (Rudalku), Mohammad Soffa Ihsan, telah menyoroti serangan teror baru-baru ini di Rusia. Ia mengaitkannya dengan kemungkinan retaliasi terkait invasi Rusia di Ukraina, yang telah memicu serangkaian serangan teror di Moskow. Soffa mengidentifikasi kelompok Black Widow sebagai salah satu pelaku di balik beberapa serangan, dengan dugaan afiliasi terhadap ISIS yang berbasis di Khorasan, atau lebih dikenal sebagai ISIS-K.
“Saat ini, terorisme menjadi senjata yang dimanfaatkan negara-negara musuh sebagai ‘amunisi’ dalam menghadapi Rusia. Hal ini memunculkan istilah ‘terorisme negara’ atau perang melalui proxy,” ujar Soffa, Rabu (3/4).
Soffa juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap keberlanjutan dan daya tarik ISIS sebagai pemicu kekerasan global. Ia memperingatkan bahwa sel-sel JAD yang terafiliasi dengan ISIS masih aktif di Indonesia, menyebarluaskan ideologi mereka melalui berbagai saluran, termasuk internet dan langsung ke masyarakat.
“Dalam konteks politik, Indonesia mengalami peningkatan paham intoleransi dan radikalisme, yang dapat memicu radikalisasi,” tambahnya.
Menurut Soffa, ideologi transnasional seperti ISIS akan terus berkembang dalam situasi dunia yang tidak stabil, di mana konflik dan perang menjadi bagian dari kehidupan manusia. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya penegakan regulasi yang ketat dan peran aktif masyarakat dalam memerangi radikalisme.
“Penting bagi Indonesia untuk selalu waspada terhadap ancaman kekerasan berbasis ideologi. Kita perlu kesadaran kolektif dan tindakan bersama untuk melawan ideologi terorisme, serta pentingnya pendidikan dan perdamaian dalam mewujudkan keamanan dan persatuan,” tegas Soffa. (RST)







